Liputan Media : Guru Diharapkan Asyik dan Menyenangkan

RATUSAN guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Kalimantan Utara (Kaltara) mengikuti pelatihan Guru Asyik dan Menyenangkan (GURAME), diselenggarakan Yayasan Rumah Si Jempol Kota Tarakan bekerjasama dengan Yayasan GURAME Yogyakarta.
Pelatihan dimaksud berlangsung selama dua hari, Sabtu (18/3) hingga Minggu (19/3) di Gedung Serbaguna Kantor Walikota Tarakan.
Pemilik Yayasan Rumah Si Jempol Dhesy Pramulya Sagita mengatakan, pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai salah satu perwujudan kepedulian dirinya pada dunia pendidikan. “Acara ini adalah inisiatif kami sendiri. Pesertanya itu perwakilan guru-guru PAUD dari kabupaten/kota se Kaltara,” ujarnya, Sabtu (18/3).
Meski demikian, wanita akrab disapa Bunda Dhesy ini mengaku, suksesnya acara tersebut tidak terlepas dari dukungan beberapa sponsor. “Alhamdulillah ada beberapa yang mensponsori, yaitu Bankaltim, Erlangga, Kalbe, dan Melilea,” tuturnya.
Menurutnya, pelatihan seperti ini pertama kalinya diadakan sebuah yayasan di Kota Tarakan. Dia pun berharap, ke depannya ada yayasan lain ikut berpartisipasi. “Ya, tentu ini sangat banyak manfaatnya, karena mendidik anak usia dini berbeda dengan mengajarkan siswa SMP atau SMA. Kami mendorong yayasan lain untuk dapat menyelenggarakan talkshow seperti ini,” imbuh Dhesy.
Wanita kelahiran 1980 ini mengaku terinspirasi mendirikan Yayasan Rumah Si Jempol berdasarkan pengalaman hidupnya saat menuntut ilmu sejak SMP di Bojonegoro, Jawa Timur. “Namun, teladan utama kami adalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW,” tandas dia.
Berdasarkan informasi disampaikan ketua panitia pelaksana kegiatan, Tri Yeni Utami, jumlah peserta mencapai 210 orang.
MENDIDIK TIDAK BISA MENDADAK KARENA MENDADAK TIDAK BISA MENDIDIK

Salah satu pemateri, Deden Hamsa (Pemilik GuruAsyik.com) mengatakan, mendidik tidak bisa mendadak karena mendadak tidak bisa mendidik, untuk itu pentingnya para guru untuk  mengikuti pelatihan-pelatihan khusus untuk itu.

“Banyak hal yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorang guru sebelum melakukan kegiatannya sebagai guru. Dan semua itu akan kita sampaikan nanti pada sesi kedua dan besok (19/3) disampaikan sama Kak Syaiful,” ujar pria akrab dipanggil Kang Deden itu, saat ditemui usai memaparkan materi pada sesi pertama.
Menurut dosen di Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulya Yogyakarta ini, menjadi seorang tenaga pendidik tidak cukup hanya bermodalkan niat saja, namun harus disertai dasar ilmu pengetahuan yang tinggi. “Jika lulusan SMA atau sederajat, sangat dianjurkan meneruskan ke jenjang pendidikan sarjana yang mengarah pada jurusan keguruan. Dan kalau belum mampu untuk itu, dianjurkan aktif mengikuti talkshow seperti ini. Sekali lagi Saya tekankan bahwa mendidik tidak boleh mendadak,” jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, harus dibekali bagaimana mengimplikasikan segala instrumen yang ada. “Anak-anak lebih senangnya ‘kan bermain. Namun bagaimana seorang guru memanfaatkan instrumen-instrumen tersebut supaya di dalam permainan itu lebih dominan nilai-nilai pendidikannya. Selain itu, perlu juga seorang guru menguasai panggung atau banyak gerak,” kata Kang Deden
Kemudian, guru juga harus menghindari kesalahan dalam menyampaikan materi. “Misalnya, guru sering mengucapkan kata ‘bodoh’, itu pasti berpengaruh besar terhadap anak didik,” tandasnya.

Liputan www.kompasiana.com